Toilet Training pada Anak, Kelihatannya Sederhana Tapi Penting!

Toilet Training pada Anak

Toilet training pada anak adalah salah satu fase perkembangan penting yang sering kali membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan strategi yang tepat. Bagi banyak Ibu, masa ini bisa terasa menantang karena setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda-beda. 

Namun dengan pendekatan yang tepat, toilet training justru bisa menjadi proses menyenangkan sekaligus menguatkan kemandirian si Kecil. Yuk, pahami langkah-langkah yang tepat di bawah ini! 

Apa itu Toilet Training pada Anak?

toilet training pada anak

Toilet training adalah proses melatih anak agar mampu melakukan buang air kecil dan buang air besar secara mandiri menggunakan toilet, potty, atau kloset. Fase ini bukan hanya soal kemampuan fisik, tetapi juga kesiapan emosional, komunikasi, dan kontrol otot panggul.

Menurut The American Academy of Pediatrics (AAP), toilet training ideal dilakukan ketika anak sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan, bukan berdasarkan usia semata. Dengan memahami konsep ini, Ibu bisa mendampingi si Kecil tanpa tekanan dan menjadikannya pengalaman positif.

Kapan Anak Mulai Belajar Toilet Training?

toilet training pada anak

Banyak Ibu bertanya-tanya, sebenarnya kapan waktu yang tepat untuk memulai toilet training? Menurut AAP, sebagian besar anak siap memulai toilet training antara usia 18 bulan hingga 3 tahun, namun rentangnya sangat bervariasi karena setiap anak berkembang secara unik. 

Riset juga menunjukkan bahwa anak perempuan sering kali siap lebih awal dibanding anak laki-laki, tetapi hal ini bukan merupakan tolok ukur yang pasti. Sebab, ada berbagai faktor lain yang juga memengaruhi. 

Meski demikian, Ibu bisa mengenali tanda-tanda anak siap toilet training meliputi:

Infografis Ciri Anak Siap Toilet Training
  • Si Kecil sudah bisa duduk dan berdiri dengan stabil.
  • Popoknya mulai sering kering selama 2–3 jam.
  • Mulai merasa tidak nyaman ketika popoknya basah atau kotor.
  • Mampu mengikuti instruksi sederhana.
  • Menunjukkan minat pada toilet atau potty.
  • Mulai mengenali sensasi ingin BAK/BAB dan menunjukkannya lewat kata atau gesture.

Jika Ibu belum melihat tanda-tanda ini, toilet training sebaiknya ditunda agar prosesnya tidak membuat si Kecil stres. Pasalnya, memaksakannya justru bisa memicu trauma. Oleh karenanya, penting untuk orang tua memahami kondisi anak. 

Bagaimana Cara Mengajarkan Toilet Training pada Anak?

toilet training pada anak

Mengajarkan toilet training pada anak membutuhkan pendekatan bertahap. Berikut cara yang disarankan oleh AAP dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), disampaikan dengan cara yang mudah dijalani oleh Ibu di rumah:

1. Mulai dengan Pengenalan

Sebelum benar-benar memulai, ajarkan konsep dasar tentang toilet. Ibu bisa melakukan langkah-langkah berikut:

  • Mengajak si Kecil melihat Ibu ke kamar mandi.
  • Menjelaskan bahwa BAK/BAB tempatnya di toilet, bukan di popok.
  • Membacakan buku tentang toilet training agar ia lebih familiar.

2. Pilih Peralatan yang Tepat

Beberapa anak lebih nyaman menggunakan potty chair, sedangkan lainnya langsung menggunakan toilet dengan dudukan tambahan dan pijakan kaki. Pilih yang membuat si Kecil merasa aman dan stabil ketika duduk.

3. Ciptakan Rutinitas

Ajak si Kecil duduk di potty pada waktu-waktu tertentu:

  • Setelah bangun tidur
  • Setelah makan
  • Sebelum mandi
  • Sebelum tidur

Konsistensi membuat si Kecil memahami ritme tubuhnya.

4. Gunakan Bahasa yang Sederhana

Gunakan kata-kata yang mudah dipahami, misalnya:

  • “Ayo pipis.”
  • “Ini waktunya ke kamar mandi.”

Komunikasi yang sederhana membuat si Kecil lebih percaya diri mengikuti instruksi.

5. Berikan Pujian yang Spesifik

Setiap keberhasilan sekecil apa pun perlu diapresiasi. Misalnya ibu bisa mengungkapkan beberapa kalimat berikut pada si Kecil:

  • “Wah, si Kecil hebat sudah duduk di potty!”
  • Good job sudah bilang mau pipis!”

Pujian membantu anak merasa bangga dan termotivasi.

6. Hindari Hukuman

Apabila terjadi kecelakaan (ngompol atau BAB di celana), Ibu tidak perlu memarahi si Kecil. Reaksi negatif justru membuat anak cemas dan memperlambat proses belajar.

7. Kenakan Celana Dalam

Ketika anak mulai mampu menahan BAK/BAB lebih lama, Ibu bisa mencoba mengganti popok dengan celana dalam. Ini memberi sensasi baru dan membuat si Kecil sadar kapan ia mulai basah.

8. Gunakan Metode “Toilet Time Reminder

Setiap 2–3 jam, ingatkan si Kecil untuk mencoba ke toilet. Anak sering lupa karena terlalu asyik bermain, sehingga reminder membantu mencegah insiden.

Manfaat Toilet Training bagi Anak Usia Dini

toilet training pada anak

Mengajarkan toilet training bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga perkembangan emosional dan sosial si Kecil. Berikut beberapa manfaat pentingnya:

1. Membangun Kemandirian

Ketika si Kecil berhasil menggunakan toilet sendiri, ia merasa mampu dan percaya diri. Ini membantu meningkatkan self-esteem yang berdampak baik pada tumbuh kembangnya.

2. Mengasah Kontrol Motorik Halus dan Kasar

Toilet training mengajarkan koordinasi gerak seperti melepas celana, duduk, berdiri, dan membersihkan diri. Semua ini termasuk bagian dari perkembangan motorik.

3. Membantu Anak Memahami Sinyal Tubuh

Anak belajar membedakan sensasi ingin BAK atau BAB, serta memahami cara meresponsnya. Ini penting untuk perkembangan regulasi diri.

4. Meningkatkan Interaksi Sosial

Ketika anak sudah lulus toilet training, ia akan lebih percaya diri pergi ke TK, daycare, atau bermain bersama teman. Beberapa sekolah bahkan mensyaratkan toilet training sebagai salah satu syarat masuk.

5. Mengurangi Risiko Iritasi Kulit

Dengan berkurangnya penggunaan popok, risiko ruam, kemerahan, atau iritasi kulit juga semakin kecil.

Tanda Anak Belum Siap Toilet Training

toilet training pada anak

Tidak semua anak langsung siap memulai toilet training. Berikut tanda bahwa Ibu sebaiknya menunda prosesnya:

  • Si Kecil masih sering tantrum ketika diminta duduk di toilet.
  • Tidak menunjukkan ketertarikan pada potty atau kamar mandi.
  • Popoknya masih sangat sering basah.
  • Belum bisa mengikuti instruksi sederhana.
  • Sedang mengalami perubahan besar seperti pindah rumah, kelahiran adik, atau sedang sakit.

Memaksakan saat anak belum siap dapat menimbulkan stres, retensi urine, sembelit, bahkan regresi perilaku.

Tips agar Toilet Training Lebih Lancar

Selain langkah utama di atas, Ibu bisa mencoba tips berikut:

  • Gunakan sticker chart atau reward kecil agar si Kecil semangat.
  • Beri contoh positif tanpa mengejek atau membandingkan dengan anak lain.
  • Gunakan pakaian yang mudah dilepas.
  • Pastikan kamar mandi aman dan ramah anak.

Kesabaran adalah kunci. Ingat ya, Bu bahwa toilet training adalah proses, bukan perlombaan. Toilet training pada anak adalah salah satu fase penting yang mengajarkan kemandirian, kontrol fisik, dan regulasi diri. 

Dengan memahami kapan anak siap, cara mengajarkan yang benar, serta apa saja manfaatnya, Ibu bisa mendampingi si Kecil melalui proses ini dengan lebih tenang dan percaya diri.

Waji Baby Cream

Selain itu, Ibu juga bisa menyediakan Waji Baby Cream Calm & Soft. Dibuat dengan formula 4 in 1 yang telah teruji klinis sehingga membantu menenangkan, melembapkan, melindungi, dan merawat kulit bayi secara menyeluruh. 

Memastikan anak melewati fase toilet training dengan selalu memberikan Waji Baby Cream Calm & Soft adalah langkah yang tepat. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, dapatkan produknya sekarang juga untuk memberikan perawatan terbaik bagi kulit si Kecil! 

Keranjang Belanja
Chat dengan CS Waji
Scroll to Top