Saat gatal, ada beberapa makanan yang dianggap tidak boleh dikonsumsi karena bisa menyebabkan gatal semakin parah. Termasuk olahan ayam. Lalu, apakah gatal gatal boleh makan ayam atau memang benar tidak boleh? Yuk simak faktanya disini.
Gatal-gatal di kulit merupakan salah satu hal yang sangat mengganggu, baik ketika kamu sedang beraktivitas maupun tidak. Kondisi ini kemudian sering dikaitkan dengan makanan yang telah dikonsumsi.
Pasalnya, terdapat beberapa jenis makanan yang memang memicu tubuh mengalami gatal-gatal. Salah satu yang sering disebut-sebut oleh masyarakat adalah konsumsi akan daging ayam.
Namun, benarkah daging ayam tidak boleh dikonsumsi jika sedang gatal? Yuk, simak fakta selengkapnya di bawah ini!
Apakah Gatal Gatal Boleh Makan Ayam?
Jika tidak mempunyai alergi pada makanan khususnya ayam, seperti alergi protein ayam atau alergi pada bahan makanan tertentu yang digunakan saat memasak ayam, maka boleh-boleh saja mengonsumsinya saat sedang gatal. Namun, jika kebalikannya (ada alergi), maka sebaiknya jangan makan ayam saat sedang gatal.
Untuk memudahkan kamu kedepannya saat akan pilih-pilih makanan, berikut Minji spill apa aja makanan yang jelas tidak bisa dikonsumsi saat sedang gatal.
Baca Juga: Atasi Berbagai Jenis Gatal dengan Sabun Gatal Waji

Bukan Ayam, Ini Makanan yang Jelas Tidak Boleh Dimakan Saat Gatal-gatal
Namun, perlu dicatat bahwa respons tubuh terhadap makanan dapat bervariasi antarindividu. Selain itu, tidak semua makanan yang sama akan memiliki efek yang sama pada gatal-gatal.
Meskipun demikian, ada beberapa makanan yang umumnya dianggap dapat memperburuk gejala gatal-gatal pada beberapa orang seperti berikut.
1. Makanan Pedas
Makanan pedas mengandung senyawa yang disebut kapsaisin, yaitu zat aktif yang memberikan sensasi panas pada makanan pedas. Kapsaisin bekerja dengan cara merangsang reseptor nyeri pada kulit yang dikenal sebagai reseptor TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid 1).
Ketika kapsaisin berinteraksi dengan reseptor maka akan menyebabkan sensasi panas dan perasaan terbakar pada kulit. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pain pada tahun 2016 menunjukkan bahwa aplikasi topikal kapsaisin dapat menyebabkan perubahan dalam persepsi nyeri dan gatal-gatal.
Meskipun kapsaisin sering digunakan dalam produk pereda nyeri, penggunaannya juga dapat menyebabkan sensasi gatal-gatal pada beberapa individu, terutama pada kulit yang sensitif atau teriritasi.
Bagi beberapa individu yang sensitif terhadap kapsaisin atau memiliki kulit sensitif, konsumsi makanan pedas juga dapat memicu reaksi serupa, termasuk sensasi gatal-gatal pada kulit. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki masalah kulit seperti dermatitis atau gatal-gatal kronis, menghindari makanan pedas mungkin merupakan langkah yang bijak untuk mengurangi gejala gatal-gatal.
Penting untuk diingat bahwa respons tubuh terhadap makanan pedas dapat bervariasi antara individu, dan tidak semua orang akan mengalami sensasi gatal-gatal setelah mengonsumsi makanan pedas.
Namun, bagi mereka yang sensitif terhadap kapsaisin atau memiliki kulit sensitif, mengurangi konsumsi makanan pedas dapat membantu mengurangi gejala gatal-gatal pada kulit.
2. Makanan Tinggi Histamin
Beberapa makanan tertentu, seperti anggur merah, keju tua, makanan fermentasi (misalnya, tempe, tahu, dan kimchi), serta makanan laut yang sudah basi (seperti ikan dan udang), mengandung kandungan histamin yang tinggi.
Histamin adalah senyawa kimia yang diproduksi secara alami oleh tubuh dan juga dapat ditemukan dalam makanan tertentu. Saat tubuh mengalami reaksi alergi atau intoleransi makanan, kandungan histamin tinggi dalam makanan tersebut dapat memicu atau memperburuk gejala, termasuk gatal-gatal pada kulit.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal International Journal of Molecular Sciences pada tahun 2019, konsumsi makanan yang mengandung histamin tinggi dapat menyebabkan peningkatan kadar histamin dalam tubuh.
Hal ini dapat mengakibatkan berbagai gejala, termasuk gatal-gatal pada kulit, ruam, atau pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.
Bagi individu yang sensitif terhadap histamin atau memiliki masalah kulit seperti dermatitis, mengonsumsi makanan yang mengandung histamin tinggi dapat memperburuk gejala gatal-gatal.
Oleh karena itu, disarankan untuk membatasi atau menghindari konsumsi makanan seperti anggur merah, keju tua, makanan fermentasi, dan makanan laut yang sudah basi bagi mereka yang rentan terhadap reaksi histamin.
3. Makanan Penyebab Alergi
Beberapa jenis makanan umum seperti kacang-kacangan (kacang tanah, kacang almond), telur, susu sapi, ikan, dan makanan laut lainnya seringkali menjadi pemicu alergi makanan. Reaksi alergi terhadap makanan ini dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk gatal-gatal pada kulit.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice pada tahun 2019, alergi makanan merupakan masalah yang semakin umum terjadi di masyarakat, terutama pada anak-anak.
Studi ini menunjukkan bahwa gejala alergi makanan pada kulit, seperti gatal-gatal, ruam, atau urtikaria, sering kali terjadi setelah mengonsumsi makanan yang umumnya menjadi pemicu alergi, seperti kacang-kacangan, telur, susu, ikan, dan makanan laut.
Bagi individu yang alergi terhadap makanan tertentu, seperti kacang-kacangan, telur, susu, ikan, atau makanan laut, mengonsumsi makanan tersebut dapat menyebabkan reaksi alergi yang melibatkan gejala gatal-gatal pada kulit.
Oleh karena itu, sangat penting bagi mereka yang memiliki alergi makanan untuk membatasi atau menghindari konsumsi makanan yang menjadi pemicu alergi tersebut dan selalu membaca label makanan dengan cermat.
