Musim pancaroba adalah peralihan dari penghujan ke kemarau. Masa peralihan ini dikenal sering membawa banyak dampak negatif, termasuk memicu berbagai penyakit.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Selama periode pancaroba, hujan biasanya terjadi pada siang hingga menjelang malam hari.
Tapi, sebelumnya akan didahului oleh udara hangat pada pagi hingga siang. Akibatnya, kondisi atmosfer menjadi sangat labil.
Penyakit Musim Pancaroba
Ketidakstabilan atmosfer membuat cuaca menjadi ekstrem, bahkan bisa disertai hujan lebat, angin kencang, hingga petir dan puting beliung. Keadaan ini kemudian memberikan pengaruh pada banyak aspek kehidupan, salah satunya kesehatan.
Pasalnya, salah satu dampak terhadap kesehatan adalah memicu berbagai penyakit, khususnya yang terjadi ketika musim pancaroba. Berikut ini jenis-jenis penyakit yang paling sering dialami masyarakat saat pergantian musim menurut Kemenkes RI:
1. Flu dan batuk
Ketika memasuki pancaroba, penyakit yang paling sering menyerang masyarakat adalah flu. Pasalnya, proses perubahan cuaca dari penghujan ke kemarau ini terjadi secara drastis. Akibatnya, tubuh akan lebih rentan terhadap virus, termasuk yang menyebabkan flu.
Selain itu, penyakit flu saat musim pancaroba juga dipengaruhi oleh perubahan suhu yang ekstrem dan peningkatan kelembapan lingkungan sekitar. Hasilnya, virus-virus penyebab flu akan mudah menyerang manusia.
Mereka yang mengalami flu akan menunjukkan gejala, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga kelelahan. Oleh karenanya, jenis penyakit ini sangat perlu diwaspadai ketika memasuki pancaroba.
Baca Juga: Cara Membuat Minuman Jahe untuk Batuk yang Enak dan Efektif
2. Diare
Diare adalah gangguan sistem pencernaan yang ditandai dengan sering buang air besar dalam kondisi feses yang encer. Penyakit ini juga sangat umum terjadi saat musim pancaroba.
Penyebabnya adalah cuaca ekstrem yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, mudah bagi virus dan bakteri, termasuk penyebab diare yang menyerang tubuh. Oleh karenanya, banyak orang mengalami diare ketika musim pancaroba.
3. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit yang tidak kalah eksisnya ketika musim pancaroba adalah DBD. Pasalnya, penyakit ini disebabkan oleh virus yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti yang biasanya berkembang pesat ketika pergantian musim, baik dari penghujan ke kemarau atau sebaliknya.
Proses perkembangbiakan nyamuk sangat cepat dikarenakan dukungan lingkungan sekitar yang lembap, banyak genangan air, dan cuaca yang tidak menentu. Hasilnya, nyamuk-nyamuk tersebut akan berjumlah lebih banyak sehingga memungkinkan membawa virus ke manusia.
Selain itu, kondisinya juga diperparah dengan imun tubuh manusia yang menurun saat pancaroba. Jadi, semakin buruknya imun tubuh maka akan semakin mudah terserang virus yang memicu penyakit DBD. Oleh karenanya, kamu perlu sangat waspada terhadap penyakit ini.
Itulah beberapa jenis penyakit yang umumnya dialami oleh banyak orang ketika pancaroba. Meski demikian, masih ada jenis penyakit lain yang juga berpotensi menyerang manusia selama pergantian musim yang memicu cuaca ekstrem.
Dampak Musim Pancaroba

Pancaroba memang periode pergantian musim yang memberikan dampak bagi kehidupan, baik positif maupun negatif. Berikut beberapa dampak yang umumnya langsung bisa dirasakan:
1. Dampak negatif
Pergantian musim dari penghujan ke kemarau atau sebaliknya bisa memberikan efek negatif, seperti peningkatan risiko penyakit, potensi cuaca ekstrem, hingga bencana alam. Masing-masing efek tersebut disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda.
Meningkatnya risiko penyakit, khususnya infeksi saluran pernapasan, sering disebabkan oleh perubahan suhu lingkungan yang ekstrem, meningkatnya kelembapan udara, dan menurunnya kekebalan atau imun tubuh.
Sementara itu, potensi cuaca ekstrem itu sendiri dikarenakan kondisi atmosfer yang tidak stabil. Bahkan, pemanasan permukaan yang kuat juga memicu pembentukan awan-awan konvektif, terutama awan Cumulonimbus (Cb). Jenis awan ini akan memicu hujan lebat disertai kilat/petir, dan angin puting beliung.
Adapun risiko terjadinya bencana alam dikarenakan cuaca yang ekstrem, seperti hujan yang lebat. Kondisi ini memang kerap memicu banjir dan tanah longsor. Oleh karenanya, setiap orang perlu meningkatkan kewaspadaannya ketika pancaroba.
2. Dampak positif
Alih-alih hanya merusak atau memberikan dampak negatif, pancaroba di sisi lain ternyata justru memberikan efek positif terhadap satu aspek kehidupan. Salah satu yang paling mendapatkan manfaatnya adalah meningkatkan produktivitas pertanian.
Manfaat tersebut bisa dirasakan oleh mereka yang bekerja di sektor pertanian. Pasalnya, ketika pergantian musim biasanya akan meningkatkan pasokan air. Sebagai salah satu indikator kesuksesan pertanian, pasokan air yang tercukupi akan mendukung hasil pertanian yang maksimal.
Oleh karenanya, meskipun banyak dampak negatif yang diberikan, namun kita tidak bisa mengabaikan manfaatnya bagi sistem pertanian Indonesia yang mayoritas adalah agraris.
Kapan Terjadi Musim Pancaroba?
BMKG memprediksi pancaroba atau pergantian musim di tahun 2025 akan terjadi mulai bulan April hingga Juni 2025. Prediksi ini mengacu pada peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau di Indonesia.
Selanjutnya, puncak musim kemarau akan terjadi pada Juni–Agustus 2025. Hal ini perlu diwaspadai setiap orang, sebab beberapa wilayah akan mengalami kondisi normal, lebih basah, atau lebih kering. Oleh karenanya, perlu ada persiapan-persiapan yang matang untuk menghadapi musim pancaroba dan musim kemarau itu sendiri.
Ciri-ciri Musim Pancaroba

Menyimpulkan dari laman BMKG, ada beberapa ciri musim pancaroba yang sangat mudah dikenali seperti:
- Hujan yang terjadi pada siang hingga menjelang malam hari.
- Udara hangat pada pagi hingga siang.
- Kondisi yang panas akibat pemanasan permukaan bumi.
- Munculnya awan-awan konvektif seperti Cumulonimbus (Cb).
- Terjadinya hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang.
- Hujan es atau angin puting beliung.
- Hujan terjadi secara tidak merata dan berlangsung dalam durasi yang sangat singkat.
Itulah ciri-ciri yang bisa kamu dapati ketika memasuki pergantian musim, terutama dari penghujan ke kemarau.
Saat Pancaroba, Sedia Waji untuk Lindungi Diri!

Seperti yang sudah kamu ketahui, ada banyak penyakit dan kondisi cuaca yang sangat ekstrem ketika pancaroba. Hal ini mengharuskanmu untuk melindungi tubuh dari berbagai ancamannya.
Kamu bisa sediakan Minyak Balur Waji dan Sabun Waji untuk perlindungan maksimal. Sebab, Minyak Waji dengan formula 10+ Botanical Essences mampu menghangatkan tubuh, memberikan kenyamanan, dan meredakan gatal akibat air hujan.
Adapun Sabun Waji yang rutin digunakan untuk mandi akan melindungi tubuh dari jamur dan bakteri penyebab gatal. Hasilnya, tubuh akan selalu bersih meski menghadapi pancaroba dengan berbagai cuaca ekstremnya.
Lalu, bagaimana jika kamu perlu perlindungan untuk bayi atau anak-anak? Waji Minyak Telon Plus bisa jadi solusinya. Formula 5 Perlindungan Alami membantu meredakan sekaligus melindungi gigitan nyamuk atau serangga, membantu menghangatkan tubuh, melegakan pernapasan, dan merawat kesehatan kulit. Perlindungan tersebut sangat dibutuhkan untuk si Kecil, terutama ketika pancaroba.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, dapatkan produk-produk Waji sekarang juga untuk lindungi keluarga tercinta saat musim pancaroba!!
