Sebagai ibu yang baru melahirkan, ada banyak tantangan yang sering dihadapi. Mitos perawatan bayi umumnya jadi salah satunya, selain kerentanan akan terkena baby blues. Pasalnya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat percaya pada mitos.
Meskipun, mitos tentang bayi sudah mulai ditinggalkan, terutama oleh masyarakat perkotaan. Akan tetapi, masih banyak masyarakat yang sangat meyakininya. Yuk, simak beberapa mitos merawat bayi seperti di bawah ini!
Mitos Perawatan Bayi dan Fakta yang Benar

Perlu Ibu ketahui, berikut beberapa mitos dan fakta bayi baru lahir yang umumnya masih sering disalahpahami masyarakat Indonesia:
1. Membedong Kaki Agar Tidak Bengkok
Masyarakat dulu beranggapan bahwa membedong bayi dengan sangat erat akan menghasilkan kaki yang lurus. Padahal, tindakan ini hanyalah mitos. Faktanya, seiring bertumbuhnya bayi dan keinginannya untuk berjalan maka kakinya akan lurus dengan sendirinya.
Seperti diungkapkan dr. Revina Tranggana, Sp.A., CIMI., dokter spesialis anak dalam kanal Instagram Eka Hospital, bedong tidak memengaruhi kondisi kaki anak, seperti bengkak dan bengkok.
Apabila sampai terjadi kaki bayi yang bengkak atau bengkok maka penyebabnya adalah faktor genetik. Oleh karenanya, orang tua tidak perlu membedong kaki bayi dengan sangat erat hingga memicu sulit bergerak dan bernapas.
2. Gurita Mencegah Perut Buncit pada Bayi
Gurita biasanya dipakai untuk membalut tubuh bayi dari dada hingga perut bagian bawah. Bagi sebagian orang, tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya perut buncit. Padahal, memakaikan gurita, terlebih terlalu kencang sangat tidak direkomendasikan.
Melansir laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi baru lahir bernapas lebih banyak menggunakan otot-otot perut. Memakaikan gurita apalagi dengan kencang pada perutnya justru akan menghambat pernapasan.
Tidak hanya itu, IDAI juga menyebutkan bahwa gurita bisa menutupi tali pusar yang memicu kotor dan infeksi. Akibatnya, kondisi pada bayi justru bisa semakin parah. Oleh karenanya, memakaikan gurita untuk mencegah perut buncit hanyalah mitos.
3. Jidat yang Lebar Menunjukkan Bayi yang Pintar
Antara jidat yang lebar dengan kecerdasan seseorang tidak ada hubungannya. Pasalnya, kecerdasan sangat dipengaruhi oleh faktor genetik kedua orang tuanya. Selain itu, juga karena stimulasi nutrisi yang diberikan dan usaha yang dilakukan oleh anak itu sendiri.
Hasilnya, jidat yang lebar menunjukkan bayi yang pintar hanyalah mitos. Selebihnya, kepintaran seseorang tidak diukur atau dilihat berdasarkan jidatnya, melainkan faktor-faktor seperti genetik, nutrisi, dan usaha.
4. Terlalu Lama Digendong Membuat Bayi Manja

Sebagai orang tua, menggendong buah hati yang baru lahir adalah kegiatan yang menyenangkan. Hal ini menjadikan beberapa orang lupa menggendongnya terlalu lama. Mitosnya, tindakan seperti ini akan membuat bayi menjadi manja.
Padahal, lebih sering bersentuhan dengan bayi–digendong–membantu menguatkan ikatan batin antara Ibu dengan anak. Ikatan batin ini sangat diperlukan dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya. Faktanya, misalnya Ibu yang menggendong bayi ketika menangis akan memberikan rasa tenang dan aman.
Alih-alih membuat bayi menjadi manja, tindakan tersebut justru menguatkan ikatan batin antara anak dengan orang tua. Ibu hanya perlu mengatur waktu terbaik untuk menggendong si Kecil agar tujuan tersebut bisa tercapai.
5. Bayi yang Bahagia Jarang Menangis
Tangisan pada bayi umumnya menunjukkan sifat alami atau natural seorang bayi. Seperti dilansir dari laman RSIA Kendangsari Surabaya, semua bayi pasti menangis. Bahkan, tangisan bayi umumnya akan meningkat sejak usia 2-3 minggu.
Selain itu, banyak bayi yang kemudian menangis sampai puncaknya usia 6–8 minggu. Pada periode ini, bayi akan sangat sering menangis. Ibu tidak perlu terlalu khawatir, namun cukup dengan berusaha menenangkannya.
Sebab, apabila si Kecil telah melewati periode tersebut maka tangisan akan berangsur-angsur menurun. Selanjutnya, pada usia 12 minggu maka tangisan bayi sudah memasuki kondisi yang normal. Oleh karenanya, anggapan bayi yang bahagia jarang menangis hanyalah mitos.
6. Menangis Baik untuk Paru-paru
Meski tangisan bayi adalah reaksi yang normal, namun membiarkannya secara terus-menerus bukanlah tindakan yang tepat ya, Bu. Pasalnya, anggapan orang tua bahwa menangis baik untuk paru-paru hanyalah mitos.
Bayi yang menangis biasanya sedang memberikan tanda tertentu, seperti haus, lapar, rasa tidak nyaman, dan lain sebagainya. Berbagai kondisi tersebut harus segera ditangani oleh Ibu sebagai orang tua.
Misalnya, ketika bayi menangis karena lapar maka Ibu harus segera memberikan air susu ibu (ASI). Langkah ini sebagai respon cepat untuk meredakan tangisan bayi. Oleh karenanya, setiap orang tua harus mulai memahami tanda yang diberikan oleh si Kecil.
7. Hindari Keluar Rumah Sebelum 40 Hari
Ibu pasti pernah mendengar nasihat bahwa bayi yang belum berumur 40 hari sebaiknya jangan dibawa keluar rumah. Meskipun sering dikaitkan dengan nilai-nilai mistis, namun tujuannya adalah baik.
Faktanya, bayi yang baru lahir, terutama sebelum usianya memasuki 40 hari sangat rentan terkena berbagai penyakit. Alasannya, sistem imun dalam tubuh mereka masih lemah atau belum sekuat orang dewasa.
Hasilnya, memaksanya untuk sering beraktivitas di luar rumah meningkatkan risiko bayi terkena penyakit. Oleh karenanya, menghindari keluar rumah sebelum 40 hari adalah fakta untuk melindungi bayi dari berbagai risiko yang mungkin mengancam kesehatannya.
8. Menjemur Pakaian Bayi Setelah Magrib Mengundang Penyakit

Mitos ini bisa jadi benar karena waktu Maghrib adalah pergantian antara siang dan malam. Pada waktu ini, biasanya banyak binatang kecil yang keluar meninggalkan sarangnya. Tujuannya untuk menghinggapi bunga-bunga dan mengambil serbuk sarinya.
Menjemur baju setelah Maghrib akan meningkatkan risiko terkena serbuk sari yang dibawa oleh serangga. Kondisi ini biasanya akan memicu reaksi pada kulit bayi. Pasalnya, kulit bayi masih sangat sensitif, salah satunya pada serbuk sari.
Akibatnya, mengenakan baju yang dijemur ketika malam hari akan memicu reaksi gatal-gatal pada bayi. Oleh karenanya, Ibu perlu menghindari menjemur pakaian bayi ketika malam hari.
9. Minum Air Kelapa agar Kulit Bayi Bebas Kerak
Ketika hamil, Ibu pasti sering disarankan untuk minum air kelapa. Mitosnya, air kelapa sangat bermanfaat agar kulit bayi bebas dari kerak. Faktanya, kerak yang menempel pada kulit kepala bayi terbentuk akibat aktifnya kelenjar minyak pada Ibu.
Kondisi tersebut sangat dipengaruhi hormon ibu hamil. Adapun kerak pada kulit kepala bayi sering disebut disebut dengan dermatitis seboroik. Oleh karenanya, minum air kelapa agar kulit kepala bayi bebas dari kerak hanyalah mitos.
Itulah, 9 mitos dan fakta seputar anak yang perlu Ibu ketahui. Sebab, mengetahuinya akan membantu Ibu sebagai orang tua memilih langkah-langkah yang disarankan, dibanding harus mempercayai mitos-mitos tersebut.
Lindungi Kulit Buah Hati dengan Minyak Telon Waji

Dibanding mempercayai mitos, Ibu lebih baik melindungi kulit buah hati dengan Waji Minyak Telon Plus. Diformulasikan dari 100% bahan alami, seperti citronella oil, juniper berry oil, minyak adas, minyak kelapa, minyak kelapa, minyak bawang merah, minyak kayu putih, minyak lavender, minyak adas manis, dan calendula oil sehingga kaya akan manfaat,
Minyak Telon Waji mampu memberikan 4 Perlindungan Alami seperti:
- Melindungi dari gigitan nyamuk dan serangga
- Memberikan kehangatan dan kenyamanan
- Menutrisi, melembapkan, dan merawat kulit
- Meredakan gatal, ruam, dan peradangan pada kulit
Selain perlindungan tersebut, Ibu juga tidak perlu khawatir karena produk-produk Waji pasti telah lulus uji BPOM dan tidak menimbulkan efek samping atau iritasi. Oleh karenanya, Waji telon sangat cocok untuk si Kecil. Yuk, lindungi kulit buah hati dengan Minyak Telon Waji sekarang juga!
Baca Juga: Cara Mengatasi Alergi Minyak Telon Pada Bayi
